UI Ungkap 5 Jurusan S1 dengan Pengangguran Terbanyak di Indonesia, Manajemen Paling Tinggi
JAKARTA — Lulusan perguruan tinggi selama ini kerap dianggap memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, tingginya jumlah lulusan sarjana pada bidang tertentu ternyata juga diikuti dengan persoalan pengangguran. Salah satu kajian dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa terdapat sejumlah jurusan S1 yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap kelompok pengangguran di Indonesia.
Dalam kajian tersebut, manajemen menjadi salah satu bidang studi dengan jumlah lulusan menganggur paling besar. Bahkan, lima bidang studi secara keseluruhan disebut mencakup sekitar 40 persen dari kelompok lulusan yang belum bekerja.
Data tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa tingginya jumlah lulusan dari suatu jurusan tidak secara otomatis berarti prospek pekerjaan bagi lulusannya buruk. Kondisi pasar kerja, jumlah lulusan setiap tahun, kompetensi yang dimiliki, serta kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri turut memengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja.
Manajemen Menjadi Sorotan
Lulusan manajemen disebut menjadi kelompok terbesar di antara pengangguran lulusan minimal jenjang S1 di Indonesia. Berdasarkan analisis LPEM FEB UI, lulusan bidang manajemen menyumbang sekitar 10,3 persen dari total pengangguran sarjana.
Angka tersebut kemudian disusul oleh beberapa bidang studi lainnya, yakni hukum, ekonomi, pendidikan, dan akuntansi. Kelima bidang tersebut menjadi kelompok yang cukup dominan dalam komposisi pengangguran lulusan perguruan tinggi.
Fenomena ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa jurusan-jurusan tersebut tidak memiliki prospek karier. Justru, tingginya jumlah pengangguran pada sebuah bidang studi juga dapat dipengaruhi oleh banyaknya mahasiswa yang memilih jurusan tersebut.
Manajemen, misalnya, merupakan salah satu program studi yang cukup populer di berbagai perguruan tinggi. Banyak kampus menyediakan program studi manajemen sehingga jumlah lulusannya setiap tahun juga relatif besar. Ketika pertumbuhan jumlah lulusan tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan lapangan kerja, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan pun menjadi semakin ketat.
Tidak Berarti Prospek Kerja Buruk
Besarnya proporsi pengangguran pada lima bidang studi tersebut tidak dapat langsung dijadikan kesimpulan bahwa lulusan jurusan tersebut memiliki masa depan karier yang buruk.
Pasar tenaga kerja saat ini membutuhkan lebih dari sekadar ijazah perguruan tinggi. Perusahaan semakin mempertimbangkan kemampuan praktis, pengalaman kerja, kemampuan berkomunikasi, penguasaan teknologi, hingga kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia industri.
Karena itu, mahasiswa maupun lulusan baru perlu memiliki keterampilan tambahan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Penguasaan teknologi digital, analisis data, bahasa asing, kemampuan menggunakan perangkat lunak tertentu, hingga pengalaman magang dapat menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia kerja.
Selain itu, lulusan juga memiliki kesempatan untuk bekerja di berbagai sektor yang tidak selalu berhubungan langsung dengan nama jurusannya. Lulusan manajemen, misalnya, dapat berkarier di bidang pemasaran, sumber daya manusia, operasional, keuangan, bisnis, hingga kewirausahaan.
Persaingan Lulusan Perguruan Tinggi
Meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi membuat persaingan di pasar kerja semakin kompetitif. Gelar sarjana tidak lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan seseorang dapat langsung memperoleh pekerjaan.
Perusahaan cenderung mencari kandidat yang mampu menunjukkan kompetensi dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan posisi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk tidak hanya memberikan pembelajaran teoritis, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Bagi mahasiswa, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya mempersiapkan karier sejak masih berada di bangku kuliah. Mengikuti kegiatan organisasi, magang, pelatihan, sertifikasi, maupun membangun portofolio dapat menjadi langkah untuk meningkatkan daya saing setelah lulus.
Pada akhirnya, data mengenai lima jurusan dengan jumlah pengangguran terbesar tersebut perlu dilihat secara lebih komprehensif. Tingginya angka pengangguran tidak otomatis berarti jurusan tersebut tidak menjanjikan, tetapi menjadi gambaran bahwa lulusan perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri.
Dengan persiapan yang matang dan kemampuan yang terus dikembangkan, lulusan dari berbagai bidang studi tetap memiliki peluang untuk membangun karier dan bersaing di tengah perubahan pasar kerja Indonesia.

